Obesitas
dapat disebut sebagai akumulasi lemak secara berlebihan atau abnormal dalam
tubuh yang dapat mengganggu kesehatan (Sulistyaningrum et al, 2015). Obesitas
diketahui menjadi salah satu factor resiko munculnya berbagai penyakit
degenerative seperti penyakit jantung dan stroke, dimana penyakit tersebut
merupakan penyebab kematian terbesar penduduk di dunia. Salah satu penyebab
obesitas adalah adanya ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran energy
di dalam tubuh. Jumlah asupan yang tinggi dan aktivitas fisik yang rendah dapat
menjadi resiko terjadinya obesitas. Selain aktivitas fisik, factor lain yang
dapat mempengaruhi kejadian obesitas diantaranya adalah pekerjaan, asupan
makanan, stress, aktivitas fisik, jenis kelamin serta usia (Sofa, 2018).
Meningkatnya
prefalensi obesitas yang terus meningkat dapat dipengaruhi oleh perubahan gaya
hidup dan pola makan, terutama dikota-kota besar. Pergeseran pola makan
tradisional ke pola makan barat (terutama dalam bentuk fast food), pergeseran
pola makan yang komposisinya mengandung tinggi kalori, lemak, karbohidrat,
kolesterol serta natrium, namun rendah serat. Jenis makanan tersebut tak lain
ialah makanan yang sering kita sebut fast food dan soft drink, kedua jenis
makanan ini dapat menimbulkan ketidak seimbangan asupan gizi dan dapat menjadi
factor risiko terhadap munculnya obesitas atau yang disebut sebagai makanan
obesogenik (Rafiony et al, 2015).
Obesogenik
merupakan penggabungan kata obesitas dan genetic. Dimana suatu makanan yang
dikonsumsi oleh individu yang berbeda akan menimbulkan efek yang berbeda pula,
hal itu disebabkan oleh gen yang berbeda dari setiap individu tersebut. Makanan
yang mudah didapat dan memiliki kalori yang tinggi, seperti kripik, kentang
goreng, sosis bologna, hamburger, pizza, mentega, dan kacang-kacangan dapat
disebut sebagai makanan Obesogenik atau makanan yang meningkatkan obesitas.
Konsumsi Makanan obesogenik dapat didasari karena perubahan gaya hidup anak
Indonesia yang kebarat-baratan, yang membuat pola makan yang merujuk pada pola
makan tinggi kalori, lemak, dan kolesterol. Perubahan gaya tersebut dipengaruhi
oleh beberapa factor yang antara lain adalah factor lingkungan atau disebut
lingkungan obesogenik (obesogenic environtment) (Sulistyaningrum et al, 2015).
Referensi :
Rafiony A. Purba M. Pramantara D.
2015. Konsumsi fast food dan soft drink sebagai factor risiko obesitas pada
remaja. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, Vol.11 No.4, April 2015
Sofa, I. 2018. Kejadian obesitas,
obesitas sentral dan kelebihan lemak visceral pada lansia wanita. Amerta
nutr vol 2 (3)
Sulistyaningrum E. Hadi H. Julia M.
2015. Presepsi ibu tentang makanan obesogenis sebagai factor risiko obesitas
pada anak sekolah dasar. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, Vol.11, No.4, April
2015
*NutritionistMuda


Tidak ada komentar:
Posting Komentar